Minggu, Oktober 18, 2009

Cot Lamkuweuh

Cermin : Saiful Bahri

Kubuka kembali catatan duka itu setelah kupendam 2,5 tahun lebih sedikit. Ada yang kutoreh pada lembar 27 Desember 2004 menjelang siang itu, ketika kuarungi lautan puing kehancuran sebuah peradaban, menyisir lautan mayat yang bertebaran, tumpang tindih, tersangkut-sangkut, terhimpit-himpit di antara sampah dan reruntuhan, untuk menujumu Cot Lamkuweuh.

Berat nian perjuanganku masa itu menujumu Cot Lamkuweuh. Usahlah kukabarkan bagaimana carut-marut wajah dan derita Blang Padang, Punge, Blang Oi dan Lambung hari itu. Karena yang ingin kutahu hanya tentangmu Cot Lamkuweuh, maka merayap-rayap kususur jalan raya bergunung puing sampah dan mayat-mayat itu, setelah kemarin kuyup disiram air hitam dan lumpur asin hangat yang dikirim laut.

Cot Lamkuweuh, hampir sore sampaiku di kaki bak geulumpang penanda sisa petamu. Nanar, pilu, haru, ngilu kutatap ujung ke ujung. Kosong, mati, rata, hampir bersih segalanya. Selingkup alam mengeram ditangkup kabut kelabu. Langit terasa rendah sekali. Uap bau asin laut itu menyegat keras sekali. Kerdil sekali aku berdiri di sini, di tengah sempurnanya kehancuranmu Cot Lamkuweuh.

Tak tahu apa yang harus kuperbuat, apa yang harus kupekik, kusesali, kucaci-maki, kubenarkan dan kusalahkan, kuagungkan dan kulecehkan. Aku gamang, aku bodoh, luluh lantak dalam lautan puingmu, ketika langit semakin rendah yang mendadak mengirimkan hujan penyiram bala sore itu.

Masih kuterpaku di kaki bak geulumpang penanda sisa petamu Cot Lamkuweuh. Kucoba mereka-reka sudut-sudut kenangan kemarin dulu, yang kemarin pagi tersentak koyak, lalu tersapu tergulung-gulung, lalu punah! Lalu, sore ini, di bawah renyai hujan tak dingin ini kucoba memaknai punah atas segalamu Cot Lamkuweuh.

Dalam nanar, pilu, haru, ngilu sore itu kutangkap suara-suara kemarin dulu yang kini ngiangnya senyap menjauh. Tak ada. Tak ada lagi gelak tawa, canda ceria, resah gelisah, duka cita, suka cita dan remeh temeh gebalau kehidupan saudara-saudara kecil mudaku, saudara-saudara besar tuaku, saudara dekat dan jauhku, saudara se-Cot Lamkuweuh-ku. Tak ada lagi harum lorong Lampoh Bungong, hamparan Blang Raya, cericit burung dan ceria tupai berkejaran di dahan Lampouh Sukoun, Lampouh Trung, Lampouh Roumpun dan Lampouh Yee. Pupus segala misteri Jeurat Pouk-Pouk, Jeurat Raya dan Meunasah Pie.

Tak ada lagi saksi kenangan masa kecilku di Paya Lhok kala teumaren udang di sela-sela akar bakau yang merangas sepanjang tambak itu. Tak bisa kureka dimana Tumpouk Bineh Paya, arah Meunasah dan lorong ke Lamjabat. Juga tak kulihat lagi rimbun bak mee sepanjang pelataran jalanmu Cot Lamkuweuh. Pupus juga segala wangi bhoi ungkout, haluwa meuseukat dan dodoi, yang bau itu kemarin-kemarin dulu lamat-lamat sering kuraup dari bawah bak geulumpang ini, ketika angin memburainya dari Lambung kampung sebelah.

Di kaki bak geulumpang penanda sisa petamu, luruhlah aku dalam haru memuncak karena remukmu Cot Lamkuweuh!

***

Hampir pagi di Gue Gajah. Di sisa usia luput dijemput bala, di beranda sempit itu beberapa anak kecil dan perempuan paruh baya terlelap lelah dalam tidur buramnya. Di luar, di sepanjang lorong kampung orang-orang hilir-mudik, melangkah bingung tanpa arah. Ramai sekali. Seperti riuh malam lebaran. Ada geliat lapar, ketika bau garing ikan asin dan harum gelegak kuah Indomie menyeruak dari gardu pos jaga tengah kampung, yang mendadak dijadikan dapur umum sore kemarin.

Di beranda sempit itu, kami masih berbagi kenangan tentang Cot Lamkuweuh dua hari yang lalu, sebelum tersobek-sobek, tergulung-gulung, terbanting-banting, diremas-remas hingga luluh oleh amarah laut. Bersama Ibuku, Lukman, Anen, Johan, Neh, Din, dan beberapa kerabat, anak-anak kecil serta perempuan-perempuan paruh baya yang gelisah lelapnya; dalam semesta pilu, haru, ngilu, kami susuri kembali jejakmu Cot Lamkuweuh.

Banda Aceh, 13 Juli 2007

Catatan :

Cot Lamkuweuh adalah sebuah kampong kecil, ± 300 meter dari pesisir pantai Ulee Lheue - Banda Aceh. Saat tsunami 26 Desember 2004, Cot Lamkuweuh luluh lantak, bersih rata dengan tanah.

Blang Padang : lapangan tempat keramaian, alun-alun di tengah kota Banda Aceh

Bak Geulumpang : Sejenis pohon yang menghasilkan kapas/kapuk. Sering juga disebut Bak Panjo.
Punge, Blang Oi, Lambung : Nama Desa di Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh yang turut disapu tsunami
Lampouh Bungong, Blang Raya, Lampouh Sukoun, Lampouh Trung, Lampouh Roumpun, Lampouh Yee, Jeurat Pouk-Pouk, Jeurat Raya, Meunasah Pie, Paya Lhok, dan Tumpouk Bineh Paya adalah nama-nama tempat yang ada dalam wilayah Kampung Cot Lamkuweuh.

Teumaren : suatu cara menangkap udang dengan menggunakan lidi kelapa yang diujung lidi diikat surai putih benang dari kulit pelepah batang pisang. Surai itu dibuat melingkar lalu diikat diujung lidi. Cara menggunakannya adalah memasukkan lingkar bulatan surai itu ke mata udang, lalu diputar sampai mata udang melekat di ujung lidi.

Meunasah : adalah surau/langgar tempat beribadah umat Islam yang ada di kampong-kampung di Aceh.

Lamjabat : nama kampung yang berdekatan dan bersebelahan dengan Kampung Cot Lamkuweuh.

Bak Mee : Pohon Asam Jawa

Bhoi Ungkout, Haluwa Meuseukat, Dodoi : adalah jenis kue-kue tradisional Aceh. Dodoi dalam bahasa Indonesia adalah dodol.

Gue Gajah : Sebuah kampung tua di kaki gunung Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Ketika Tsunami, Gue Gajah berhiruk pikuk menampung ribuan pengungsi, termasuk dari orang-orang Pulo Aceh (sebuah pulau kecil di ujung Sumatra yang bisa dilihat dari ketinggian Glee (gunung ) Pancu).

Presiden Itu Sudah Tua

Cermin : Saiful Bahri

Kala penanggalan Masehi merujuk pada 8-8-1988 di Meunasah Tuha taman itu kau pernah bergumam : tubuhku boleh luruh, cintaku tak pernah luluh. Maka sejak itu mulailah kau kukagumi. Mulailah kau cecar aku dengan petuah-petuah syair berseling getah latah hikayat-hikayat mirismu. Mulailah kau jungkirbalikkan aku dalam kepungan kata dan cerita derita bangsa. Larutlah aku dalammu!

Dua tahun setelah larutku dalammu, engkau pun diangkat menjadi seorang presiden : Presiden Rex! Aku ingat hari itu Jum’at, kala penanggalan Masehi merujuk pada 2-2-1990. Berita pengangkatanmu itu masih kukliping dari sebuah suratkabar bernama Kompas. Ada potretmu, anakmu dan anak tangga istanamu menyelip disela-sela pemberitaanmu di surat kabar itu. Garang sekali tampil rupamu di lembar itu, ketika itu.

Setelah itu hari-hari kita terpelanting begitu cepat. Masih sempat sama-sama kita catat tentang Gurita yang tenggelam menjelang lebaran, kumuhnya perang dan kusutnya wajah-wajah pengungsi di tanah kelahiran, dan perginya kawan-kawan kita sepermainan di Meunasah Tuha taman itu secepat sekedip mata di pagi minggu akhir Desember itu. Begitu cepat waktu berlalu….

Dan sore ini, kala penanggalan Masehi merujuk pada 7-7-2007, setelah hampir 19 tahun berlalu, setelah sekian lama tak lagi kita singgahi Meunasah Tuha itu, langkah-rezeki-pertemuan-maut, mempertemukan kita kembali di kantin taman itu. Sore ini jadi sore bersejarah bagi kita, karena setelah sekian waktu berlalu kita kembali ke taman ini, yang menurutmu ini adalah kampung tua bagi kita.

“Sudah ada pergantian Presiden?”tanyaku.
“Belum!”jawabmu singkat.
“Tapi ‘kan situ sudah tua!”
“Tentu!”
“Kapan situ lengser?”
“Entah!”
“Lho?!”
“Ya!”

Sama-sama kita memandang Meunasah Tuha di sudut belakang taman ini. Sama-sama pula kita lihat masa 19 tahun yang lalu, ketika kau, aku, Din dan Mus menghabiskan hari-hari merangkai syair, membungkus cerita, mengandai-andai menjaga + mengubah peradaban. Sesekali masa dalam masa-masa itu ada pameran lukisan, sandiwara-sandiwara, baca-baca syair, main-main band dan kemah-kemah seniman di taman ini. Ah, ringan sekali masa-masa itu. Sepertinya tanpa beban. Liar. Indah. Manis untuk dikenang-kenang.

Tetapi ketika kuurut-urut kembali penanggalan dan angka-angka di Tahun Masehi itu : 8-8-1988, 2-2-1990 dan 7-7-2007, aku menangkap firasat aneh tentangku dan tentangmu Presiden! Firasat yang sangat lumrah menurut banyak orang, tetapi sangat unik menurutku. Firasat angka! Firasat waktu! Firasat yang Aceh : langkah, rezeki, pertemuan, maut! Ada apa ini? Kenapa bisa-bisanya seperti ini? Aku yakin ini bukan main-main dan sekedar reka-reka! Aku kelabakan. Badan gemetar dan mendadak berkeringat. Celingak-celinguk mataku liar menyisir seantero taman itu. Ah, firasat itu….

“Untuk pengobat penyakitku, selama ini tiap pagi aku minum air kencingku sendiri,”ujar Sang Presiden tiba-tiba.

Tak kuacuh ocehannya itu. Aku semakin terperosok dalam hitung-hitungan firasat. Aku melebur dan berpusar-pusar dalam angka-angka firasat : 8-8-1988, 2-2-1990, 7-7-2007. Apa ini? Ada apa ini? Mengapa ini? Siapa ini?!

“Tubuhku boleh luruh, cintaku tak pernah luluh,”lirih dan malu-malu kembali kau bergumam.
Banda Aceh, 10 Juli 2007

*** Presiden dalam cerpen ini adalah : Hasbi Burman (Seorang seniman Aceh), yang dijuluk Presiden Rex oleh Bre Redana (wartawan Kompas) yang beritanya dimuat di koran Kompas pada tanggal 2 Februari 1990.

Musang Berjanggut Lagi

Cermin : Saiful Bahri

Perkabungan 1001 purnama mengenang tragedi pembantaian musang berjanggut tunailah sudah di ujung senja hari ini. Konon menurut kisah turun-temurun setelah 1001 purnama berlalu, kutuk serapah musang berjanggut akan tawar hilang sakti. Padahal menjelang nyawa meregang musang berjanggut telah menabur kutuk bahwa pada awal senja masa purnama ke 1001 musang-musang akan ketiban anugerah janggut. Semua bangsa musang akan berjaya dengan janggut-janggut.

Namun hingga tengah malam, hingga purnama utuh sempurna dalam purnama, kutuk itu tak mengutuk. Generasi musang yang berdebar menanti tumbuhnya janggut kesal, sesal dan kecewa. Para pewaris negeri menarik nafas lega, mencoba sedikit tertawa, bersuka ria agak gegap gempita, karena negeri terselamatkan dari ancaman wabah musang berjanggut.

Lena-melena mimpi indah menyaput ubun-ubun anak-anak pewaris negeri yang menghabiskan malamnya dalam tidur yang gerah. Dipojok-pojok negeri, di liang-liang hitam, di selokan dan riol-riol yang tersumbat, di sisa hutan yang mengering, di sela-sela garang batu karang, di loteng-loteng rumah tua, di tumpukan arsip-arsip rahasia, di antara karung-karung beras gudang cadangan, di kolom sempit iklan-iklan surat kabar, di sudut-sudut hati penabir licik berkulum benci; musang-musang tersengat sadar. Sekujur tubuh musang-musang kepanasan. Musang-musang panik. Musang-musang tercekam kecut yang kalut. Panas tubuh musang-musang itu perlahan-lahan mengalir menusuk ke bagian kepala, kemudian mengerucut ke bagian dagu. Hanya sekejap panas itu menyengat. Setelah itu, dagu-dagu mungil itu gatal-gatal enak. Seketika para musang mencoba menggaruk dagunya. Dan alangkah terkejutnya mereka, karena kini di dagunya telah tumbuh jenggot. Para musang terbeliak! Serentak mereka terbahak!

Ketika pagi menyeruak negeri itu, maka jadilah pagi itu pagi petaka. Anak-anak pewaris negeri termangu-mangu dalam linglung yang lapuk. Ya, lapuk! Lapuklah negeri, setelah musang berjanggut lagi, setelah musang-musang berjanggut lagi! Kejayaan musang kini berjanggut bertengger lagi. Beribu-ribu musang berjanggut membantai ayam dan bebek dan biri-biri, mengunyah padi, jagung dan aneka palawija, menghirup darah, minyak dan isi otak, membumihanguskan sisa hutan, kampung kenangan dan kota-kota tua, membawa lari anak-anak dara dan rahasia-rahasia negara, mencabik-cabik sejarah, ambisi dan ilusi. Masa ini masa musang! Musang kini bertahta lagi!

Hari-hari di negeri itu kini selalu berhuru-hara.
Anak-anak pewaris negeri kian termangu.
Linglungnya makin melapuk.

Banda Aceh, 7 Juni 2008

Catatan Galau Jiwa

Puisi : Saiful Bahri

kepada siapa kukabar syair
bila gelinjang itu telah sunyi
menari linglung sendiri
sepi segala puja puji

biar saja risau ini
menukik dalam diri sendiri
mencungkil kenangan
melengking dalam bisu
melenguh diam-diam

syairku syair kacau
galau itu sungguh merisau

Banda Aceh, 19 Oktober 2009

Sabtu, Oktober 17, 2009

Sekali Senja di Pancu

(puisi: Saiful Bahri)

jingga itu menangkup percik asin di batu

melintas batas harap
menyisir sisa hutan
malu-malu mengharap malam
menebar mimpi indah setelah seribu gundah
tercatat di kitab sejarah

Aceh,
di Pancu sendu
kurindu sapa Acehku

yang Aceh


Ujong Pancu, 17 Oktober 2009

Rabu, Oktober 14, 2009

Tuan Pembual

Cermin : Saiful Bahri

Tuan Pembual

Kamilah rakyat yang tersekat, terjerat, melarat, selalu dalam sekarat, dan selalu saja terbuai-buai dalam decak indah manis bual-bualmu, wahai Tuan-Tuan Pembual. Ketika bermula musim semai menyemai bual, amatlah lantang kobar-kobar bualmu, wahai Tuan-Tuan. Sungguh sangar dan angker bualmu itu. Terpukaulah kami. Berdeguplah dada kami, menggelegak berbuncah-buncah harap akan cerahnya hari esok. Begitu cocok dan selalu cocok bualmu mematuk dan menyosor-nyosor lingkar melingkar selingkar derita kami, menjelang sore itu di tanah lapang ujung kampung kami.

“Karena anda-anda dan saudara-saudari semua adalah saudara-saudara saya tercinta, saya tak ingin membiarkan angkara murka melindas tak habis-habis awal hidup hingga akhir hidupmu, wahai saudaraku! Saya bersumpah akan berjuang demi mengentaskan segala derita yang terpelihara dengan sangat sempurna bermasa-masa, turun-temurun. Sungguh derita itu jangan lagi kita manjakan. Mari bersama-sama kita bekerjasama dengan saya punya rencana. Anda-anda tak perlu ragu, karena janji saya pasti saya tunaikan jika saudara-saudari mempercayai saya. Percayailah saya! Ingatlah janji saya, tak pernah ada lagi peminta-minta di simpang-simpang jalan, karena mereka akan kita berikan modal usaha apa saja sesuai maunya mereka. Lapangan kerja terhampar luas, seluas samudera di laut lepas. Harga bahan pokok tak akan naik semena-mena, minyak tanah tak perlu antri, listrik tak perlu bayar, pembangunan fisik dan mental spiritual menjadi prioritas pertama dan utama. Koruptor dan pemakan uang rakyat akan kita pancung atau kita gantung, sehingga ia jera, sehingga tak ada lagi ketimpangan yang merugikan rakyat. Tak ada lagi kebodohan, karena pendidikan akan bebas dari segala biaya. Tak ada lagi biaya kesehatan, karena semua akan digratiskan. Free! Free semuanya! Free hidup! Free mati!” Tuan Pembual itu terengah-engah kehabisan nafas.

Sore bersaput debu menjadi saksi atas segala bual yang terpercik di sehampar tanah lapang yang hampir tandus dari kenangan rerimbunan rumput. Ya, hampir tandus, sehampirtandusnya keyakinan dan kepercayaan kami akan ampuhnya bual-bualmu, wahai Tuan Pembual. Sekedar menghargai niat baikmu untuk memperjuangkan nasib kami, maka kami memaksakan diri untuk sejenak mendengarkan bual-bualmu. Karena engkau telah membual bahwa kami adalah saudaramu, maka apa susahnya jika kami juga ala kadarnya menganggapmu saudara. Alangkah licik dan mirisnya jika kita bersepakat untuk saling bual-membual!

“Untuk itu wahai saudaraku, bulatkan tekad, tetapkan niat agar mempercayakan nasib hidup mati saudara-saudara kepada saya, karena makmur, adil, sejahtera pasti segera jadi milik kita. Dukunglah rencana-rencana saya. Pilihlah saya! Pilihlah saya!”

Seekor kelelawar tua terbang rendah melintas tanah lapang. Kepak sayapnya lemah. Ia berputar-putar tujuh kali di atas kepala Tuan Pembual. Setelah itu, kelelawar tua itu jatuh, menimpuk kepala botak Tuan Pembual. Seketika itu juga kelelawar tua itu mati. Tuan Pembual tersentak. Ia meraba kepalanya. Ada darah melekat di jari tangannya. Ia tercekat. Seketika ia pucat. Ia merasakan sial. Ia tersadar, ia telah terlalu banyak membual.

Sore hampir selesai. Kami rakyat yang suka dibual-bual berbisik-bisik sesama kami. Tak jelas apa yang kami bisikkan. Karena kami enggan bersuara, maka bisik membisik biarlah menjadi jatah kami. Karena bual kami tak sehebat bualnya Tuan Pembual, maka biarlah kami membual hal-hal yang remeh, seumpama akankan Obama terpilih menjadi presiden Amerika, makna apakah gempa 3,8 skala Richter pada jam 08.05 di hari 20 puasa, salah apakah kampung kami kini jarang hujan, khusyuk mana minum kopi atau shalat tarawih, harga timun murah sekali, harga emas naik lagi, harga hidup semakin susah lagi, harga mati tak ada tawar-tawar lagi!

Tuan Pembual menghilang entah kemana. Kami tak sempat mempedulikannya lagi. Kami sibuk mempedulikan diri kami, anak istri kami, saudara sekampung kami. Peduli kami hanya dari kami untuk sesama kami sendiri!

Banda Aceh, 20 September 2008